Selasa, 25 September 2012

Diskusi Publik: Peringatan Hari Ozon Sedunia

Selasa, 25 September 2012 · 0 komentar


aksi Bery dan Reza ketika menyanyikan lagu lagu bertemakan alam.

Syair lagu Iwan Fals yang berjudul Puisi Rimba turut mewarnai acara Diskusi Publik  Peringatan Hari Ozon Sedunia. Lagu tersebut dibawakan oleh Reza, Fransisca dan Bery, diiringi gitar dan jimbe.  Lirik lagu yang menyentuh tersebut berupaya menyadarkan kita bahwa kita harus bersahabat dengan alam. Lagu itu dinyanyikan dengan sempurna sehingga mengundang tepuk tangan penonton yang hadir pada acara diskusi publik yang diselenggarakan secara unik tersebut. Dikatakan unik karena tempat pelaksaannya tepat di ruang terbuka, pelataran lantai 1 Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universirtas Negeri Medan (UNIMED), sehingga menarik perhatian setiap mahasiswa yang lalu lalang melewati falkutas tersebut. Selain unik, dekorasi tempatnya juga sangat menarik perhatian, dimana disetiap tiang-tiang gedung FIS diletakkan dahan pohon setinggi 2 (dua) meter  yang sudah tua, lalu ditempeli daun  disetiap ranting yang terbuat dari gantungan kertas-kertas yang berisi seruan-seruan bahwa lapisan ozon telah menipis. Kreatif bukan?
Seorang mahasiswa geografi dalam aksinya memperlihatkan bumi akan hancur dan memusnahkan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu rawatlah dan lestarikanlah bumi kita.
Diskusi publik tersebut diselengarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Geografi UNIMED dengan mengusung tema “Selamatkan Ozon untuk Anak Cucu Kita!” Acara tersebut diselenggarakan pada hari senin yang lalu, 17 September 2012 untuk memperingati hari ozon yang diperingati setiap tanggal 16 September.  Dalam acara tersebut panitia menghadirkan pemateri dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumut dan Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (UKM MAPALA) UNIMED Wanri Lumban Raja.
Proses persiapan acara dalam memperingati hari ozon sedunia. Kretaif bukan?

Pemateri BLH Sumut Tedi Supriatna, SH menegaskan sudah ada peraturan Internasional dan Nasional  terkait lapisan ozon. “Dalam Protokol Montreal, 1987, yaitu kesepakatan internasioanl yang menjelaskan secara rinci mengenai aturan-aturan penggunaan dan perdagangan CFC dan Halon. Selain itu ada Keppres RI No. 23 Tahun 1992 tentang Rativikasi Konvensi Vienna dan Protokol Monteral, Keppres RI No. 92 Tahun 1998 Ratifikasi Amandemen Kopenhagen, Perpres RI No. 33 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Amandemen Beijing, serta Perpres RI No. 46 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Amandemen Monteral.” Ucapnya setelah mengucapkan rasa terimakasihnya atas kepedulian mahasiswa yang selalu mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kepedulian terhadap alam dan lingkungan. “Kita sebagai warga indonesia berkewajiban dalam melakukan upaya perlindungan lapisan ozon, mengawasi dan menghapus konsumsi BPO, serta berkomitmen menghentikan Impor CFC. Strategi yang bisa ditempuh yaitu dengan melaksanakan pengapusan BPO secara bertahap, mengelola BPO yang telah beredar di Indonesia, serta mencegah emisi BPO ke atmosfer” tambahnya.
Pemateri dari BLH (Badan Lingkungan Hidup ) Sumut

Diskusi publik itu ternyata mengundang antusisas dari para mahasiswa yang hadir. Terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang tunjuk tangan dan memberikan tanggapan mengenai penipisan lapisan ozon. Pemateri Wanri lumban Raja yang juga merupakan aktivis dari Kelompok Studi Mahasiswa Barisan Demokrat (BARSDem) menjelaskan tentang bahaya penggunaan produk yang mengandung CFC dan unsur-unsur terkait didalamnya. “Pada lapisan Stratosfer radiasi matahari memecah banyak molekul gas yang mengandung khlorin dan bromine atau disebut dengan CFC. Radikal-radikal khlorin dan bromine kemudian melalui reaksi berantai yang destruktif memecahkan ikatan gas-gas lain termasuk ozon. Molekul-molekul ozon terpecah menjadi molekul oksigen dan atom oksigen. Dengan terjadinya reaksi ini akan mengurangi konsentrasi atom di stratosfer. Atom oksigen yang terbentuk kemudian bereaksi dengan radikal khlorin atau bromine membentuk oksida kholrin atau bromin. Atom ini dapat bereaksi berulang-ulang melalui mekanisme yang sama.” Dia juga menambahkan, ” Bahan-bahan kimia buatan manusia telah merusak lapisan ozon di stratosfer. Di daerah lintang tengah dan lintang tinggi di daerah utara dan selatan telah terjadi penipisan sebesar 8 persen pada musim dingin, di Antartika kerusakan mencapai 60 persen selama musim semi”.
Lukisan yang menggambarkan penipisan lapisan ozon, karya Serevia Purba.

Langkah Nyata
Untuk mencegah lapisan ozon yang semakin menipis diperlukan langkah nyata. “Langkah nyata yang bisa dilaksanakan adalah jika membeli produk kemasan penyemprot agar membeli produk yang berlogo Ozon Friendly, atau logo Non CFC. Produk tersebut sangat aman bagi Ozon yang berguna sebagai selimut bumi kita.” Ucap Wanri. 

“Acara ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian  mahasiswa serta  masyarakat mengenai perlindungan lapisan ozon. Terkhusus untuk mahasiswa geografi setidaknya harus peka dan peduli terhadap alam. Mahasiswa geoografi harus siap berbagi waktu dengan alam,” ucap Zuahir Pratomo selaku ketua HMJ Geografi ketika mengakhiri kata sambutannya. “ Kita akan terus membuat kegiatan mengenai kepedulian terhadap lingkungan. Tanpa adanya kelestarian lingkungan kita tidak bisa hidup dengan damai di planet bumi ini,” tambahnya. 
Panitia dan Pemateri

Suksesnya acara tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai komunitas mahasiswa yang telah tumbuh di Jurusan Geografi UNIMED. Komunitas tersebut adalah seperti Komunitas Online Mahasiswa Geografi Unimed (KOMED), Front Independent Of Geography (FINGER), Komunitas Sistem Informasi Geografi (SIG),JOMBEIS COMMUNITY, HOLLY SPIRITO CHOIR, dan Ikatatan Mahasiswa Geografi Indonesia (IMAHAGI) komisariat UNIMED. 



(Berita ini merupakan hasil liputan KOMED)
Bekerja sama dengan HMJ dan Panitia Acara.



By: Rindu Hartoni Capah
Kabid Humas HMJ
Ketua Komed